Senin, 23 Mei 2016

Harapan dalam kekompakan untuk membentuk ikatan kekeluargaan

                Awalnya pada saat pendaftaran mahasiswa baru saya berfikir semua akan berjalan lancer dan mulus-mulus saja seperti pada saat jaman SMA dulu. Ternyata setelah mencari dan berusaha untuk masuk universitas yang saya impikan, saya dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Akhirnya saya memilih welding engineering sebagai naungan untuk mencari ilmu dan bekal hidup saya. Setelah melalui serangkaian tes di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya akhirnya kita para maba dikirim ke AAL ( Akademi Angkatan Laut) untuk pendidikan kedisiplinan. Disinilah awal dimana kita dihadapkan pada kepercayaan diri kita karena kita dikelompokkan secara acak dan tidak saling kenal satu sama lain.
                Setelah berperang di AAL, perjuangan baru pun dimulai. Sebagai agent of change atau agen dari perubahan kita dilatih mandiri , selain mandiri kita juga harus kompak. Kompak itu adalah saling menolong, saling melengkapi, saling mendukung, saling menemani, saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling toleransi dalam melakukan sesuatu secara seiring dan seirama satu sama lain. Berawal dari AAL kita dituntut untuk kompak dan selalu berusaha, niscaya kesuksesan akan kita raih dimasa depan dengan besama-sama satu angkatan. Sebagai contohnya yaitu bila ada teman kita dalam satu angkatan yang belum mendapatkan pekerjaan maka kita harus membantunya karena mereka semua adalah keluarga kita yang telah belajar bersama sama selama 4 tahun jadi kita harus membantu keluarga kita tersebut.
Setelah itu dalam satu angkatan sudah kompak maka kita harus menjalin kekeluargaan dengan senior kita agar semua warga teknik pengelasan menjadi satu keluarga yang utuh dan saling membantu satu sama lain. Sesuai dengan jargon kita yang berbunyi WE BROTHERS. Dari jargon WE BROTHERS tersebut yang dimiliki olah warga teknik pengelasan ini mengartikan bahwa seluruh angkatan pertama sampai angkatan akan datang harus menjunjung tinggi kekompakan dan kekeluargaannya.
Menurut saya kekeluargaan itu sangat diperlukan, contohnya pada acara besi tuang ini kita dihadapkan pada senior dan itu sangat menguntungkan karena saya secara pribadi mendapat bekal ilmu yang berguna bagi saya untuk menghadapi perkuliahan kedepan. Sekarang saya memiliki sedikit gambaran tentang masa depan saya dan mau menjadi apa saya dimasa mendatang. Saya hanya menyayangkan ada sebagian teman-teman yang tidak sungguh-sungguh dalam perkuliahan dan ada juga yang masih ragu ragu akan teknik pengelasan tercinta ini.

Saya berharap kepada teman teman satu angkatan semoga dimasa mendatang akan lebih dan lebih kompak lagi dari para senior kita. Begitu pula angkatan selanjutnya semoga lebih kompak dari angkatan saya. Dan juga para senior kami semoga lebih peduli lagi terhadap adik tingkatnya sehingga istilah senior dan junior tidak ada lagi seperti yang telah digadang gadangkan sejak awal perkenalan dahulu. Semoga juga himpunan teknik pengelasan menjadi himpunan terbaik di kampus PPNS dan di Indonesia sehinnga teknik pengelasan dapat dikenal diluar sana dan tidak dipandang sebelah mata dan diremehkan lagi oleh segelintir orang. 

Peran Mahasiswa TL terhadap Almamater Kampus

Mahasiswa, secara etimologis berarti siswa yang di-maha-kan, siswa yang dihormati dan dihargai di lingkungan sekitar terutama lingkungan berbangsa bernegara. Bukan hanya itu, melainkan ada yang lebih substansial lagi, mahasiswa dalam menjalankan aktifitasnya dituntut untuk mandiri, kreatif, dan idependen. Dalam kehidupan bermasyarakat, mahasiswa menjadi suatu komunitas unik yang khas, bahkan ada yang mengatakan sebagai suatu yang aneh. Mengapa demikian? Karena mahasiswa secara historis telah mencatatkan kaki dalam sejarah perubahan, menjadi garda terdepan, dan motor penggerak perubahan. Komunitas mahasiswa dikenal dengan jiwa militannya dan pengorbanan yang tak kenal lelah mempertahankan idealismenya, yang lebih substansial lagi, mahasiswa mampu berada sedikit di atas kelas masyarakat karena dengan kesempatan dan kelebihan yang dimilikinya. Melihat potensi mahasiswa yang begitu besar, tidak sepantasnyalah peran mahasiswa yang hanya mementingkan kebutuhan pribadi saja. Melainkan harus tetap berkontribusi terhadap kampus bahkan bangsa dan negarnya. Seperti yang telah dituliskan di atas, mahasiswa bukan menjadi siswa yang tanggung jawabnya hanya belajar, mahasiswa memiliki tempat tersendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti memisahkan diri dari masyarakat.
                Sebagai salah satunya adalah mahasiswa Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya jurusan Teknik Pengelasan. Sebagai mahsiswa yang membawa nama jurusan di kampus maupun dan bahkan di luar kampus kita harus menjadi mahasiswa yang berguna bagi negara, salah satunya meraih berbagai prestasi di luar negeri. Kita sebagai mahasiswa teknik pengelasan haruslah bangga karena sebagian dari warga teknik pengelasan telah berhasil menorehkan prestasi di negeri sendiri maupun diluar negeri kita ini. Itu telah membuktikan bahwa kita telah membanggakan almamater kampus di dalam maupun di luar negeri, namun sangat disayangkan sebagian besar orang awam belum tau atas jurusan teknik pengelasan ini. Untuk itu perlu diadakan sosialisasi agar semua orang tahu bahwa teknik pengelasan adalah jurusan yang sangat bagus dan sangat dibutuhkan di dunia industri seperti saat ini.
                Sebagai mahasiswa yang baik dan bertanggung jawab, seorang mahasiswa sebenarnya memiliki berbagai peran salah satunya yaitu :

Peran Moral
                Mahasiswa yang dalam kehidupanya, tidak dapat memberikan contoh dan keteladanan yang baik dan telah meninggalkan amanah dan tanggung jawabnya sebagai kaum terpelajar. Jika hari ini kegiatan mahasiswa berorientasi pada hura – hura dan kesenangan, lebih suka mengisi waktu luang mereka dengan agenda rutin pacaran tanpa tahu tentang peruban di negeri ini bahkan dikampusnya sendiri, dan jika hari ini mahasiswa lebih suka dengan kegiatan festival musik dan kompetisi (entertainment) dengan alasan kreatifitas, dibanding memperhatikan dan memperbaiki kondisi kampusnya sendiri dan mengalihkan kreatifitasnya pada hal – hal yang lebih ilmiah, maka mahasiswa semacam ini adalah potret “generasi yang hilang “yaitu generasi yang terlena dan lupa akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemuda dan mahasiswa.

Peran Akademik

                Sesibuk apapun mahasiswa, turun kejalan, turun ke rakyat dengan aksi sosialnya, sebanyak apapun agenda aktivitasnya jangan sampai membuat mahasiswa itu lupa bahwa mahasiswa adalah insan akademik. Mahasiswa dengan segala aktivitasnya harus tetap menjaga kuliahnya. Setiap orang tua pasti ingin anaknya selesai kuliah dan menjadi orang yang berhasil. Maka sebagai seorang anak berusahalah semaksimal mungkin untuk dapat mewujudkan keinginan itu, untuk mengukir masa depan yang cerah. Peran yang satu ini teramat sangat penting bagi kita, dan inilah yang membedakan kita dengan komonitas yang lain ,peran ini menjadi symbol dan miniatur kesuksesan kita dalam menjaga keseimbangan dan memajukan diri kita. Jika memang kegalan akademik telah terjadi maka segeralah bangkit,”nasi sudah jadi bubur maka bagaimana sekarang kita membuat bubur itu menjadi “ bubur ayam spesial “. Artinya jika sudah terlanjur gagal maka tetaplah bangkit seta mancari solusi alternatif untuk mengembangkan kemampuan diri meraih masa depan yang cerah di dunia dan akhirat.